Tanda-Tanda Orang Bermaqam Mardhiyah

 


1. Istiqamah dalam ketenangan hati atau kedamaian jiwa. (Sukunul Qalb)

Hatinya diam total. Tidak goyang oleh pujian, tidak goyang oleh cacian. Tidak goyang oleh kaya, tidak goyang oleh miskin.

Bukan karena dia acuh tak acuh atau tidak peduli   , tapi karena dia melihat semua datang dari Satu Sumber.


2. Ibadah Berubah Jadi Mahabbah (Cinta), Bukan Lagi Taklif (Beban)

Sholat 5 waktu bagi kita beban yang harus digugurkan. Bagi dia, sholat itu pertemuan dengan yang dirindui. Kalau belum adzan, dia rindu. Kalau selesai salam, dia sedih berpisah.

Orang Mardhiyah itu kalau disuruh pilih antara surga dengan segala nikmatNYA TAPI tanpa melihat Allah, vs neraka TAPI bisa melihat Allah, dia akan pilih neraka. Karena yang dia cari bukan nikmat, tapi Pemilik nikmat.


3. Lisannya Terjaga Secara Otomatis

Bukan karena dia hafal hadits jaga lisan. Tapi karena hatinya sudah bersih, tidak ada lagi yang kotor untuk dikeluarkan.

Dia tidak boleh ghibah. Kalau mahu menghibah, lidahnya kelu. Dia tidak mampu untuk bohong. Dadanya sesak kalau berbohong.


4. Menjadi Rahmat Bagi Sekitarnya (Rahmatan Lil 'Alamin Kecil)

Orang Radhiyah itu menenangkan dirinya sendiri.

Orang Mardhiyah itu menenangkan orang lain.

Duduk di dekatnya 5 menit, hati yang gelisah jadi tenang. Ini bukan pengaruh, atau hasutan.    Ini pancaran nur keredhoan dari Allah.


5. Doanya Mustajab Tapi Jarang Meminta Dunia

Anehnya, orang di maqam ini jarang berdoa minta dunia. Doanya: "Ya Allah, jangan jauh-jauh dariku."

Tapi sesekali dia berdoa untuk orang lain, langsung tembus. Karena tidak ada hijab antara dia dan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda tentang wali seperti ini: 

رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ


Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ  bersabda ;

 "Tidak sedikit orang yang berambut kusut dan ditolak di pintu-pintu, seandainya ia bersumpah (berdoa) kepada Allah, niscaya Allah mewujudkannya."

 (HR. Muslim)


6. Melihat Hikmah di Balik Setiap Kejadian Secara Langsung (Kasyaf  Musyahadah)

Bukan kasyaf boleh lihat jin, berkebolehan melihat golongan Jin adalah 'Bomoh' bukan Awliya. Bukan itu yang dimaksudkan, tapi kasyaf hikmah.

Ketika ada orang mencelanya, dia langsung paham: "Oh, Allah sedang membersihkan sombongku lewat orang ini.

Ketika dagangannya rugi, dia langsung paham: "Oh, Allah sedang menyelamatkanku dari ujub karena kemarin aku merasa hebat."


7. Tidak Takut Mati, Malah Rindu

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا  [الكهف : 110]

"Oleh itu, sesiapa yang percaya dan berharap akan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan sesiapapun dalam ibadatnya kepada Tuhannya".

Bagi kita mati itu menakutkan.


ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً  [الفجر : 28]

"Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan engkau berpuas hati (dengan segala nikmat yang diberikan) lagi diredhai (di sisi Tuhanmu)" (Surah Al Fajr : 28) 

Bagi dia, mati itu liqo' pertemuan Seperti pengantin rindu malam pertama. Kembalilah. Kata "kembali" hanya dipakai untuk orang yang pernah pergi lalu pulang. Ruh kita asalnya dari Allah, di maqam ini ruh sudah diizinkan pulang selagi jasad masih hidup.


8. Maqam Al Diwan Al Awliya. 

Kebanyakan mereka yang berada di tahap Nafsu Mardhiyah ini adalah Wali Allah bertaraf Abdal. Jiwa mereka adalah seperti jiwa Nabi Ibrahim AS. Mereka adalah golongan manusia yang sentiasa musyahadah & muraqabah ke atas Afal , Sifat & Asma Allah.


 Sesungguhnya bagi Allah pada makhluk 300 jiwa mereka di atas satu jiwa Adam AS, bagi Allah pada makhluk 40 jiwa mereka di atas satu hati Musa AS, bagi Allah pada makhluk 7 jiwa mereka di atas satu jiwa Ibrahim AS, bagi Allah pada makhluk 5 jiwa mereka di atas satu jiwa Jibril AS, bagi Allah pada makhluk 3 jiwa mereka di atas satu jiwa Mika’il AS dan bagi Allah pada makhluk satu jiwanya di atas satu jiwa Israfil AS. Apabila matinya seorang maka Allah akan menggantikan tempatnya daripada 3, apabila matinya 3 Allah akan menggantikan tempat daripada 5, apabila matinya daripada 5 maka Allah akan menggantikan tempatnya daripada 7, apabila matinya daripada 7 maka Allah akan menggantikan tempatnya daripada 40, apabila matinya daripada 40 maka Allah akan menggantikan tempatnya daripada 300, apabila matinya daripada 300 maka Allah akan mengubah tempatnya daripada 300 dan apabila matinya daripada 300 maka Allah akan menggantikan tempatnya daripada keseluruhan. Maka dengan mereka itu Allah hidupkan dan matikan, turunkan hujan dan tumbuhkan (tanaman) serta menolak bala.

(Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, Ibn Asakir dan al-Zahabi dalam al-Mizan) 


Hadis ini disampaikan oleh Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Umar (Abdullah bin Umar) radhiyallahu 'anhuma sambil memegang bahu beliau untuk menarik perhatiannya terhadap kepentingan pesanan tersebut ;


كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ


“Jadilah engkau di dunia seakan-akan engkau orang asing atau seorang musafir.” Bukhari (No. 6416)

Selepas menerima pesanan ini daripada Rasulullah ﷺ, Ibnu Umar sentiasa berpesan kepada orang lain:

"Apabila engkau berada di waktu petang, janganlah menanti waktu pagi. Dan apabila engkau berada di waktu pagi, janganlah menanti waktu petang. Gunakanlah waktu sihatmu sebelum datang sakitmu, dan gunakanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu."




Ulasan

Catatan Popular