Kitab Al-Injaz Fi Karamat Fakhr Al-Hijaz karya Habib Mustafa Husain al-Jufri






KISAH SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL HASANI DAN HABIB LUTHFI BIN YAHYA

Dalam salah satu rihlahnya ke Singapura, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki ditemui oleh seseorang. Setelah lama duduk bersimpuh di hadapan Sayyid Muhammad dan berbincang-bincang lama, sesaat kemudian orang tersebut berpamitan untuk berangkat ke Indonesia hendak menemui salah satu habib yang terkenal di Indonesia yakni Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan Jawa Tengah.

Kemudian Sayyid Muhammad bertanya kepada orang tersebut, "Kenapa kamu ingin menemui Habib Luthfi bin Yahya?”

"Beliau (Habib Luthfi bin Yahya ) adalah salah satu wali min auliyaillah yang terkenal. Saya ingin barokah dari beliau," jawabnya.

Sejenak kemudian Sayyid Muhammad berkata kepadanya: "Kenapa kamu repot-repot datang ke Indonesia? Sebentar lagi yang kamu maksudkan itu akan datang ke sini untuk menemui saya."

Tidak lama kemudian, benar juga apa yang dikatakan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Tiba-tiba Habib Luthfi bin Yahya muncul di hadapannya ketika orang tersebut hendak pergi.

Habib Luthfi bin Yahya lalu berkata kepada orang tersebut: "Selama masih ada Abuya Sayyid Muhammad ini, kamu tidak perlu repot-repot mendatangi saya. Beliau adalah al-‘allamah waliyullah dan seorang Quthub di masanya."

Melihat kejadian itu orang tersebut tercengang dan hanya tertunduk diam.




KISAH SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL HASANI DAN HABIB MUSTAFA HUSAIN AL JUFRI

Pada musim haji tahun 1994, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri -menantu Habib Hasan Baharun Bangil- melaksanakan ibadah haji bersama dengan rombongan dari Indonesia. Sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar jamaah haji Indonesia, beliau juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke pondok Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.

Sayyid Muhammad memanggil salah satu santrinya yang bernama Mustafa Husain al-Jufri untuk melakukan suatu tugas. Setelah menyelesaikan tugasnya ia dipanggil menghadap Abuya Sayyid Muhammad. Kemudian beliau bertanya kepada Habib Abdullah yang saat itu sedang duduk di hadapannya, "Apa kamu kenal dengan orang ini?" sambil manunjuk pada Habib Mustafa.

"Ya, Abuya. Dia Mustafa Husain al-Jufri," jawab Habib Abdullah al-Jufri.

Abuya melanjutkan, "Bagaimana kalian bisa saling kenal, sementara Mustafa semenjak kecil sudah di sini. Apakah ada hubungan keluarga?”

Habib Abdullah menjawab, "Kami baru saja berkenalan sesaat sebelum bertemu dengan Abuya."

"Oh, ya”, ucap Abuya. "Tahukah wahai Habib Abdullah, bahwa Mustafa adalah tiangnya pondok ini. Ia tidak akan meninggalkan pondok ini kecuali setelah Suharto (mantan Presiden Indonesia) dibuangkan ."

Mereka berdua menanggapi perkataan Abuya itu dengan senyuman manis. Mereka berfikir mungkin Abuya sedang bercanda, karena sepertinya Suharto tidak mungkin dilengserkan. Namun di luar dugaan, sekitar 4 tahun kemudian ketika Habib Mustafa al-Jufri diizinkan pulang, waktu itu adalah saat dimana terjadi demo besar-besaran yang menuntut Suharto lengser.

Ketika Habib Mustafa telah berada di Indonesia dan bertemu dengan Habib Abdullah al-Jufri dalam suatu kesempatan, mereka memperbincangkan kembali apa yang pernah diucapkan oleh Abuya Sayyid Muhammad 4 tahun silam. "Sungguh perkataan Abuya itu tidak main-main. Subhanallah." Ungkap keduanya.




KISAH SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI AL HASANI DAN PENYIHIR

Ada seorang pembesar yang sangat berpengaruh dikerajaan Saudi memerintahkan tukang sihir untuk membunuh Abuya Sayyid Muhammad dengan cara menyihirnya dari jarak jauh. Penyihir tersebut   terpikat harta kekayaan yang banyak jika berhasil melakukannya.

Ketika sang penyihir tersebut hendak melakukan ritualnya untuk menyerang Abuya Sayyid Muhammad tanpa disadari rasa ngantuk yang amat sangat menghampirinya, hingga dia tertidur sebentar sebelum ritualnya terlaksana. Didalam tidurnya penyihir tersebut bermimpi ditemui oleh seseorang yang bertubuh besar sambil membawa pedang, seolah-olah ia akan membunuh penyihir tersebut, sambil berkata “ Hai, kamu ya yang mau membunuh Sayyid Muhammad, kamu ya yang mau membunuh anakku? Jangan lakukan hal itu, hentikanlah, jika tidak kamu akan saya bunuh sendiri”.

Dengan rasa gemetar dan ketakutan penyihir tersebut terbangun dari tidurnya, dan keesokan harinya ia mendatangi rumah Abuya Sayyid Muhammad dan segera meminta maaf, serta menceritakah mimpinya tadi malam, dan memberitahukan bahwa ia disuruh oleh seseorang yang bernama Fulan bin Fulan.

Abuya Sayyid Muhammad mendengar cerita dan pengakuan penyihir tersebut hanya tersenyum dan mendoakan kepada penyihir serta orang yang menyuruh membunuh tersebut agar mendapat hidayah dari Allah. Dan tanpa menaruh rasa dendam sama sekali kepadanya.






HADIAH MOBIL DARI RASULULLAH SAW

Pada suatu hari, sayangnya, penulis tidak ingat persis tanggal, bulan dan tahunnya, Abuya sayyid Muhammad Bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani berniat berziyaroh kepada kakek beliau baginda Rasulullah di Madinah, Namun beliau bingung mengenai cara dan kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan niatnya tersebut.

Sebab, semua urusan beliau biasanya di laksanakan setelah melalui istikharah atau mendapat isyarah (petunjuk dari Rasulullah atau para Auliya’ pendahulu beliau).

Di tengah-tengah kebingungannya itu, pada suatu malam, tiba-tiba ada seorang tamu mengetuk pintu asrama kami di ar-Rushaifah. Ketika itu, Abuya sudah meninggalkan majlis ta’limnya, karena waktu sudah agak malam. Kebetulan penulis ketika itu berada di dekat pintu.

Setelah pintu di buka, ternyata tamu tersebut adalah orang arab bergamis putih dan memakai gutrah di kepalanya layaknya orang arab saudi. Ia datang menyerahkan sebuah amplop surat yang alamatnya di tujukan kepada Abuya. Di malam itu penulis mendapatkan banyak surat dan amanat yang semuanya di tujukan kepada beliau.


Seperti biasa setelah melakukan shubuh berjamaah dan wirid bersama, penulis segera melaporkan dan menyerahkan semua surat dan amanat kepada beliau (Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki ) dan biasanya Abuya membaca surat di tempat atau memerintahkan muridnya untuk membacakannya kepada beliau jika isinya tidak bersifat rahasia.

Dari sekian banyak surat, ada satu surat yang membuat Abuya takjub bercampur haru. Pengirim surat itu adalah seorang saudagar tajir dari kota jeddah. Di dalam surat itu, ia mengisahkan bahwa dirinya bermimpi Rasulullah.

Begini kisah selengkapnya: Suatu saat, saudagar itu di landa kebingungan. Pasalnya, ia memiliki banyak harta yang sudah di belanjakan untuk kebutuhan hidupnya, tetapi masih tersisa beberapa Ribu Reyal.



Di saat itulah ia menjadi bingung hendak di kemanakan sisa uang tersebut. Tak lama kemudian ia tertidur. Di dalamnya tidurnya dia bermimpi bertemu denga Rasulullah yang memerintahkannya untuk sisa uang itu kepada Abuya sayyid Al-Maliki.

Di dalam mimpi itu, Rasulullah berkata kepadanya: Hai Fulan! Uangmu yang masih tersisa belikan mobil yang memuat 50 orang, lalu berikan mobil itu kepada anakku Sayyid Muhammad al-Maliki Mekkah. Ia ingin berziyaroh kepadaku bersama murid-muridnya tetapi tidak memiliki kendaraan.”

Saudara itupun terbangun dan langsung mengirimkan surat itu kepada Abuya, memang benar, saat itu Abuya sedang kebingungan mencari mobil agak besar yang sekiranya memuat lebih banyak penumpang, sementara mobil yang sudah ada tidak memadai.

Dan Subhanallah semua urusan mobil, mulai dari STNK dan lain-lainnya dapat di selesaikan pada hari itu juga, sehingga Abuya bersama murid-muridnya dapat berangkat ke Madinah al-Munawwaroh di hari itu juga untuk berziyaroh kepada kakek beliau baginda Rasulullah.


Berhubung saat itu tidak di jumpai mobil yang memuat 50 orang, maka saudara itu menghadiahi beliau dua mobil, yang satu bus mini dan satunya lagi Nissan, mobil yang besar itu kemudian oleh Abuya di beri nama Al-Busyro yang artinya sesuatu yang menggembirakan sedangkan yang kecil di beri nama Al-Karimah yang artinya yang mulia.




ABUYA MENENDANG MURIDNYA YANG BERKIRIM FATIHAH KEPADANYA DENGAN LAFADZ " ILA RUUHI"

Kisah ini diceritakan oleh murid beliau yang sekarang bermukim dijakarta .
pada suatu waktu dari wafatnya Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, sang murid tersebut selalu berkirim hadiah Fatihah untuk Guru tercinta yakni Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki serta doa-doa yang lain, karena dengan sang gurulah dia memperoleh didikan serta ilmu yang bermanfaat dunia akhirat.

pada suatu malam yang sunyi disaat kholwat dan munajatnya serta sambil berkirim bacaan Fatihah kepada Abuya dengan lafadz sebagai berikut ( ILA RUUHI ABUYA SAYYID MUHAMMAD ALAWI dan setalahnya melakukan sholat malam ketika hendak berdiri untuk melakukan sholat tiba-tiba sang murid tersebut ditendang oleh seseorang dari belakang dengan kerasnya, sehingga dia terjungkal ketanah, dengan merasa heran dia menoleh kebelakang, eh ternyata yang menendangnya adalah Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki.ia kaget dan sangat heran kenapa Abuya menendangnya?.

lalu Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki berkata kepadanya : " wahai Sholeh( nama murid tersebut ), kamu sudah tidak mempunyai rasa malu lagi hingga menggolongkan saya dengan orang-orang yang sudah mati? tidak, saya tidak mati ".
dan tak lama kemudian beliau menghilang dari pandangannya.
setelah kejadian tersebut sang murid tersebut tidak lagi kirim fatihah dengan lafadz " ILA RUUHI ". namun langsung berkirim fatihah ILA Abuya.





PEMERGIAN ABUYA SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL MALIKI AL HASANI

Beliau telah meninggalkan kita pada hari Jumaat, 15 Ramadhan (bersesuaian dengan doanya untuk meninggal dunia pada bulan Ramadhan), dalam keadaan berpuasa di rumahnya di Makkah. Kematiannya amat mengejutkan.Benar.. Ia adalah satu kehilangan yang besar.. Ucapan takziah diucapkan dari seluruh dunia Islam. Solat janazah beliau dilakukan di seluruh pelusuk dunia.
Beliau telah pergi pada bulan Ramadhan dan pada hari Jumaat.

Saya adalah antara yang menunaikan solat jenazah (pertama di rumah beliau diimamkan oleh adiknya As-Sayyid Abbas, dan seterusnya di Masjidil Haram dengan Imam Subayl)… Ratusan ribu manusia membanjiri upacara pengebumiannya. Semua orang menangis dan sangat bersedih… Ia merupakan satu situasi yang tidak dapat dilupakan… Allahu Akbar…
Betapa hebatnya beliau… betapa besarnya kehilangan ini… Betapa ramainya yang menyembahyangkannya… Saya tahu mata saya tidak pernah menyaksikan seorang spertinya… Seorang yang amat dicintai oleh masyarakat seperti beliau… seorang ulamak yang berkaliber dan berpengetahuan serta berhikmah…
Terdapat sekurang-kurangnya 500 orang tentera diperintah oleh kerajaan Arab Saudi di perkuburan Ma’ala untuk mengawal ribuan orang yang menangisinya. Kerabat diraja juga turut hadir. 

Para manusia menempikkan Kalimah dengan kuat sepanjang uapcara pengebumian beliau, memenuhi Makkah dari Masjidil Haram sehingga ke tanah perkuburan.Beliau disemadikan di sebelah bapanya, berhampiran maqam nendanya Sayyidah Khadijah. Sebelum beliau meninggal dunia, beliau ada menghubungi seorang pelajar lamanya di Indonesia melalui telefon dan bertanyanya adakah dia akan datang ke Makkah pada bulan Ramadhan. Apabila dia menjawab tidak, Sayyid Muhammad bertanya pula, “tidakkah engkau mahu menghadiri pengebumianku?”

Tepat sekali, beliau pergi pada bulan Ramadhan di pagi Jumaat… apakah lagi bukti yang diperlukan menunjukkan penerimaan Allah?! Makkah menangisi pemergiannya… Seluruh dunia Islam menangisi kehilangannya.





KISAH RASULULLAH SAW HADIR DI PEMAKANANNYA ABUYA SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL MALIKI AL HASANI

Diantara karomah Prof DR. Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Bin Abbas Al Maliki Al Hasani ra, ketika beliau akan dikebumikan di Ma'la, Makkah al-Mukarramah (Beliau wafat pada hari Jum'at, 15 Ramadhan 1425 H/ 29 Oktober 2004 M).

Ada beberapa orang dari keluarga beliau yang ikut turun ke liang kubur dalam proses pemakaman. Antara lain adalah Sayyid Ahmad, Sayyid Muhammad Alaydrus, Syeikh Ahmad Musa, dan juga Habib Ali al-Jufri (Hadramaut), dll.

Ketika Habib Ali al-jufri ini hendak membuka kain kafan Abuya, maka ia jatuh pingsan sampai tak sadarkan diri, ia sambil berteriak, dan tak lama kemudia ia siuman dari pingsannya.

Setelah proses pemakan selesai dan para jemaah yang melayat pun mulai meninggalkan tempat, maka ada salah seorang jemaah bertanya kepada Habib Ali Ali al-Jufri itu terkait dengan kejadian tadi (pingsannya sampai tak sadarkan diri).

Maka Habib Ali al-Jufri menjawab. "Ketika saya hendak membuka kafan Abuya dari sisi wajah, tiba-tiba saya melihat Rasulullah SAW di depan saya, lalu beliau SAW bersabda kepada saya. "Ali,, Tinggalkan ini, biar saya yang menggurusnya" . Maka saya terharu dengan kejadian itu dan akhirnya saya pingsan sampai tak sadarkan diri ".

"Subhanallah"





Alfatihah Ila Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki semoga Alloh meratakan rahmatNYA kepadanya, meninggikan derajatnya, menempatkan beliau bersama baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa wasallam, bersama para syuhada', sholihin, dan semoga kita mendapat keberkahannya, rahsia-rahsia serta cahaya-cahaya ilmunya, didalam agama, dunia dan akhirat, wailaa Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya , Mudah-mudahan Allah menjaga beliau-beliau , memanjangkan usia nya, senantiasa sihat, keberkahan selalu menyertai nya dan semoga senantiasa Allah Meredhai setiap langkah da'wahnya, Bisirril faatihah.

Ulasan

Catatan Popular