Janganlah Kamu Berguru Kepadanya Yang Tidak Menghidupkan Antara Maghrib Dan Isya'.



Shalat Sunnah Awwabin

Apa yang di maksud shalat sunnah awwabin ?

Shalat sunnah awwabin adalah salah satu jenis shalat sunnah. Awwabin sendiri berasal dari bahasa arab yang berarti (orang yang sering taubat). Ada perbedaan pendapat mengenai shalat ini di kalangan para ulama. Ada yang mengatakan bahwa shalat sunah awwabin di lakukan antara waktu maghrib dan isya’, sementara yang lain mengatakan shalat sunnah awwabin adalah nama lain dari shalat dhuha. Dan hukum shalat sunnah awwabin adalah sunnah muakkad.

Shalat ini tidak di sunnahkan untuk berjamaah. Adapun jumlah rakaatnya paling sedikit dua rakaat, dan boleh di kerjakan sampai enam rakaat atau dua puluh rakaat.

Makna Awwabin

Kata awwabin adalah jama’ ( bentuk plural) dari awwab, maknanya: orang yang taat, yang kembali kepada ketaatan. ( lihat syarh shahih muslim li an Nawawi no. 1237).

Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarok di dalam Arroghoib dari riwayat Ibnu Munkadir bahwa Nabi Muhammad saw bersabda :

من صلى بين المغرب و العشاء فانها من صلاة الاوابين

"Man sholla bainal-maghribi­ wal-isyaa'i fainnahaa min sholaatil-awwaa­biina.

Artinya : Barangsiapa yang bersembahyang antara Maghrib dan Isya', maka sesungguhnya sembahyang tersebut dari pada sembahyang Awwabin (orang-orang yang taubat).".

Hujjatul Islam Al-Ghazali mengatakan dalam Ihya Ulumiddin bahawa hukum melakukannya adalah Sunnah Mu'akkadah artinya sunnah yang dikuatkan.
Adapun riwayat Ammar bin Yasir :

من صلى بعد المغرب ست ركعات غفرت له ذنوبه و ان كانت مثل زبد البحر

"Man sholla ba'dal-maghribi­ sitta roka'aatin ghufirot lahu dzunuubuhu wa in kaanat mitsla zabadil-bahri.

Artinya : Barangsiapa yang bersembahyang sesudah Maghrib enam rokaat, diampunkanlah baginya akan dosa-dosanya, sekalipun dosa-dosan­ya itu banyaknya seperti buih di lautan.".

Nabi Muhammad saww. bersabda :

من صلى بعد المغرب ست ركعات ﻻ يفصل بينهن بكلام عدلن له عبادة اثنتي عشرة سنة

"Man sholla ba'dal-maghribi­ sitta roka'aatin layafshilu bainahunna bikalaami 'adalna lahu 'ibaadatatsnata­i 'asyrota sanatan.

Artinya : Barangsiapa shalat (awwabien) enam roka'at sesudah Maghrib, tidak diselingi antaranya dengan suatu pembicaraan, niscaya samalah pahalanya dengan ibadah duabelas tahun.".

Abu Hurairah ra. Nabi Muhammad saww. bersabda :

من صلى بعد المغرب ست ركعات لم يتكلم فيما بينهن بسوء ءدلن له بعبادة ثنتي عشرة سنة

"Man sholla ba'dal-maghribi­ sitta roka'aatin lam yatakallama fiimaa bainahunna bisuu-in 'adalna lahu bi'ibaadati tsintai 'asyarota sanatan.

Artinya : Barangsiapa yang sholat sesudah Maghrib enam roka'at dimana tidak berkata-kata ia di antaranya dengan kata-kata buruk, menyamailah sholat itu baginya dengan ibadah dua belas tahun.". (HR. At-Tirmidzi)

Sesuai pula dengan ucapan salah seorang dari pada guru-guru kami belajar :

Yang tidak menghidupkan antara Maghrib dan Isya', janganlah kamu berguru kepadanya.

ان احمد بن ابى الحوارى شاور شيخه ابا سليمان رحمهما الله تعالى فى ان يصوم النهار او يحى ما بين العشائين فقال اجمع بينهما فقال ﻻ استطيع ﻻنى متى صمت استغلت بالافطار فى هذا الوقت فقال له اذا لم تستطع ان تجمعهما فدع صيام النهار و احى ما بين العشائين

“Inna ahmada ibni abil-hawaarii syaawara syaikhohu abaa sulaimaana rohimahumallaah­u ta'alaa fii an yashuuman-nahaa­ro au yuhiya maa bainal-'isyaa-a­ini, faqoola : ijma' bainahumaa, faqoola : laa astathii'u lianni mataa shumtu, istagholtu bil-ifthoori fii hadzal-waqti, faqoola lahu : idzaa lam tastathi an tajma'ahumaa fada' shiyaaman-nahaa­ra wa ahyi maa bainal-isyaa-ai­ni.

Artinya : Sesungguhnya Ahmad bin Abu Hawari pernah musyawarah bersama gurunya Syeikh Abu Sulaiman (semoga Allah merahmati keduanya) tentang keutamaan antara puasa (sunnah) pada siang hari dengan beribadah pada waktu antara Maghrib dengan Isya', kata gurunya : Laksanakanlah kedua-duanya!, Jawab Ahmad bin Abu Hawari : Saya tidak mampu, karena apabila saya berpuasa (sunnah) pada siangnya, maka waktu antara Maghrib dengan Isya' saya sempatkan untuk berbuka puasa, maka jawab gurunya : Jika kamu tidak mampu melaksanakan kedua-duanya, maka tinggalkanlah puasa (sunnah) di siang hari dan hidupkanlah waktu antara Maghrib dengan Isya' untuk beribadah!”.

Ulasan

Catatan Popular